KARYA BUDAYA NUSANTARA

7 SENJATA PUSAKA INDONESIA YANG MELEGENDA / MACAM MACAM PUSAKA

 
1. Keris Mpu gandring
 
Keris pusaka legendaris yang terkenal dalam riwayat pendirian kerajaan Singhasari. Pedang ini ditempa oleh Mpu Gandring, seorang pandai besi yang sangat sakti atas pesanan Ken Arok. Ken Arok meminta agar keris tersebut selesai dalam 1 malam saja. Karena kesaktiaannya, keris berhasil diselesaikan dalam satu malam. Tapi ketika Mpu Gandring tengah membuat sarung keris, Ken Arok tiba-tiba datang karena menurut dia waktunya telah 1 hari. Mpu Gandring ditusuk Ken Arok karena dianggap tidak menepati janji untuk menyelesaikan keris dalam waktu 1 malam. Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok.Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari dengan korban Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Anusapati, Tohjaya.
 
 
 
2. Keris kyai condong campur
Condong Campur adalah salah satu keris pusaka milik Kerajaan Majapahit yang banyak disebut dalam legenda dan folklor.
Keris ini dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Condong Campur.
Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang,
satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah,
sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.
Konon keris pusaka ini dibuat beramai-ramai oleh seratus orang mpu. Bahan kerisnya diambil dari
berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak
yang jahat.
 
3. Keris kyai setan kober
 
Keris ini sama legendarisnya dengan Keris Mpu Gandring. Berapa luk masih belum diketahui,
tapi kalo menurut kula keris ini lurus tanpa luk, ciri khas keris yg dipakai dalam perang.
Pembuatnya tidak diketahui secara pasti karena tercampur dg tahayul yg tidak jelas.
Pemegang keris ini adalah Adipati dari Kadipaten Jipang Panolang yang juga sangat legendaris, Arya
Penangsang.
Keris ini konon, bila dicabut dari warangkanya akan menimbulkan sugesti yang hebat bagi orang2 disekitarnya.
Sugesti yg berbentuk angin ribut seperti setan2 yg berkejaran.
Arya Penangsang sendiri dikenal memiliki ilmu kebal.
Musuh sepadan keris ini adalah tombak kyai Plered yg juga melegenda.
Sewaktu konflik melawan Penangsang, Adipati Hadiwijaya (joko tingkir) mengutus Danang Sutowijoyo
untuk menantang Penangsang di bukit Menoreh dan membekalinya dg tombak keramat tsb.
 
Hadiwijaya juga dikenal ahli strategi. Beliau tahu kalau Penangsang mempunyai kuda jantan jenius
bernama Gagak Rimang. Kuda ini seperti memiliki koneksi batin dg Penangsang.
Kemanapun pengendara berpikir, kesana juga Gagak Rimang. Tanpa harus dikendalikan dengan tali kekang.
Untuk mengatasi masalah ini, Hadiwijaya menyuruh Danang menantang Penangsang disaat musim
kimpoi kuda dan menyuruh Danang memakai kuda betina. Strategi lainnya, Danang disuruh datang terlebih dahulu
dan mengambil posisi diatas bukit.
 
Pada hari H, Danang yg berada dilereng bagian atas terlebih dahulu. Ketika Penangsang datang,
kudanya yang secara alami berada dipuncak birahi melihat kuda betina tunggangan Danang.
Hal ini membuat sang kuda tak terkendali sehingga dg mudah Danang menusukkan tombak kyai Plered ke perut Arya
Penangsang. Tombak bertuah ini berhasil merobek badan kebal Penangsang mengakibatkan ususnya terburai.
Walaupun mengalami critical injured seperti ini, Arya Penangsang kembali tegak berdiri dan menguntaikan
ususnya sendiri ke gagang keris dan berlari mendekati Danang. Ketika dekat, Aryo Penangsang
draw his blade. Sayang, Aryo Penangsang lupa kalau ada ususnya sendiri disitu, ketika keris tercabut justru memutus usus tsb.
Dan berakhirlah riwayat adipati gagah ini dg cara yg luar biasa.
 
Hadiwijaya yg melihat semua ini menjadi kagum, dan menyuruh Danang bila menikah nanti meniru sikap gagah Aryo Penangsang.
Danang Sutowijoyo melakukan wejangan tersebut dan untaian usus di gagang keris diganti dengan
untaian kembang melati. Tradisi yg dipertahankan hingga sekarang.
 
 
4. Keris kyai sengkelat

Kyai Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas yang diciptakan pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.
Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu milik Muhammad saw. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.
Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.
Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil. Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, sang Mpu menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.
Di samping pandai membuat alat pertanian, beliau juga membuat tombak, pedang dan keris yang kemudian dipamerkan di tempat-tempat keramaian, di Blambangan. Seketika pameran tersebut memancing perhatian banyak orang. Banyak sekali pesanan datang dari para pejabat kadipaten Blambangan. Termasuk patih Adipati Blambangan yang memesan Keris Carangsoka.
Akhirnya sang adipati Blambangan menyaksikan keris ciptaan Ki Nambang, sebilah keris Carangsoka yang sangat bagus dan ampuh. Ketika ditusukkan ke pohon pisang, seketika itu seluruh daun pisang menjadi layu. Karenanya sang mpu di undang untuk menghadap ke kadipaten guna membicarakan suatu hal yang rahasia dengan alasan agar percikan bunga api besi bahan kerisnya, tidak menjadi bencana bagi rakyat Blambangan.
Ternyata setelah Ki Nambang datang menghadap, didapatnya tugas untuk membuat “putran” atau tiruan Kangjeng Kyai Puworo (Keris Sengkelat). Ki Nambang dengan siasatnya meminta disediakan perahu untuk membuat tiruan Kyai Sengkelat dengan alasan percikan bunga api besi bahan kerisnya tidak menimbulkan bencana bagi rakyat Blambangan.
Singkat cerita, akhirnya rencana mendapatkan kembali keris pusaka Majapahit itu berhasil tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan pertumpahan darah. Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri. Serta mendapatkan gelar kebangsawanan sebagai Kangjeng Pangeran berikut tanah perdikan di Desa Pitrang. Maka namanya pun berubah menjadi Kangjeng Pangeran Pitrang yang bekerja sebagai mpu kadipaten Blambangan.
Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan membuat keris.
Lima belas tahun kemudian setelah Mpu Pitrang meninggalkan Blambangan, datang lah seorang pemuda yang mengaku sebagai anak mpu Supa. Ketika ditanya, ia mengaku bernama Joko Suro. Mpu meminta bukti berupa besi bahan membuat keris. Namun ketika diserahkan oleh Joko Suro, besi bahan itu telah menjadi sebilah keris. Ternyata selama dalam perjalanan mencari ayahandanya, besi itu oleh Joko Suro dipijit-pijit dan ditarik olehnya hingga menjadi sebilah keris kecil. Maka keris itu pun dinamakan Keris Kyai Bethok yang mempunyai keampuhan menyingkirkan niat jahat.
 
5. Keris kyai carubuk
Dalam satu legenda dikisahkan Sunan Kalijaga meminta tolong untuk dibuatkan keris coten-sembelih (pegangan lebai untuk menyembelih kambing). Lalu oleh beliau diberikan calon besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa. Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Ia berkata besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris. Lalu Sunan Kalijaga berkata kalau besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung. Karena ampuh perkataan Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi menjelma sebesar gunung.Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut. Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan. Tidak lama, jadilah keris, kemudian diserahkan kepada Sunan Kalijaga. Akan tetapi anehnya begitu melihat bentuknya, seketika juga Sunan Kalijaga menjadi kaget, sampai beberapa saat tidak dapat berbicara karena kagum dan tersentuh perasaannya, karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Maksud semula untuk dijadikan pegangan lebai, ternyata yang dihasilkan keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Sebenarnya, begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Sunan Kalijaga agak tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.Lalu Empu Supa diberi lagi besi yang ukurannya sebesar kemiri. Setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan sunan Kalijaga sangat senang hatinya. keris itu disebut Kyai Carubuk. keris kyai carubuk ini akhirnya menjadi pusaka sultan hadiwijaya, bahkan sanggup mengalahkan keris setan kober milik arya penangsang ketika pesuruh arya penangsang melakukan percobaan pembunuhan pada sultan hadiwijaya dengan memakai keris setan kober
 
6. Tombak kyai plered
tombak sepanjang 3.5 meter ini merupakan senjata pusaka milik Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) dijamasi setiap setahun sekali saat bulan Syura. senjata ini merupakan pegangan Raja Mataram Pertama yang bernama Panembahan Senapati (Nama Asli: Danang Sutawijaya) dan digunakan untuk mengalahkan Bupati Jipang Arya Penangsang dalam perang tanding di pinggir Bengawan Solo.
 
7. Tombak baru klinting
menurut legenda merupakan titisan dari Naga Baru Klinting yang dihukum ayahnya (Ki Ageng MAngir Wanabaya) karena gagal melingkari gunung merapi.
aslinya senjata berujud tombak ini sebelumnya adalah pusaka milik Ki Ageng Mangir Wanabaya yang memberontak kepada panembahan Senopati. karena keampuhan senjata ini, panembahan Senapati terpaksa mengutus Putrinya Nyi Ageng Pembayun untuk mengelabuhi Ki Ageng Mangir. saat ini tombak ini tersimpan di Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) sebagai senjata pusaka pendamping tombK Kanjeng Kyai Plered.
 
SALAM BUDAYA,,,

KERIS PUSAKA WARISAN NUSANTARA



 PEMBUATAN KERIS PUSAKA NUSANTARA&
 BUDAYA MENUMBUHKAN BUDI PEKERTI


 


Pengetahuan tentang empu keris dan kehidupannya pada jaman dahulu yang mungkin tidak disadari sepenuhnya oleh orang-orang pada jaman sekarang sebagai berikut :

1.   Profesi sebagai seorang empu keris tidak seperti yang dipikirkan oleh manusia jaman sekarang bahwa seorang empu perkerisan adalah sama dengan seorang pandai besi atau pengrajin keris.

Seorang empu keris jaman dulu sama sekali tidak dapat disamakan dengan itu. Disamakan dengan pengrajin benda-benda senjata saja tidak bisa, apalagi disamakan dengan seorang pandai besi atau pengrajin yang membuat alat-alat pertanian dan perlengkapan memasak. Keris-keris hasil karya mereka pun tidak dapat disamakan dengan golok, pisau, kapak, arit, atau jenis senjata lain. Seorang empu keris juga tidak dapat disamakan dengan pedagang dan pengrajin keris jaman sekarang, juga tidak dapat disamakan dengan praktisi paranormal dan praktisi ilmu gaib jaman sekarang.

Dalam pembuatan keris-kerisnya empu keris jaman dulu mendatangkan gaib keris jenis wahyu, karena selain bisa dipastikan bahwa gaib kerisnya itu adalah dari golongan yang baik, juga supaya perpaduan antara wahyu dewa yang sudah ada pada diri si pemilik keris dengan gaib wahyu dari kerisnya bisa menghasilkan suatu sinergi kegaiban yang selaras dan berlipat-lipat ganda kekuatan pengaruhnya. Dengan keris buatannya itu si empu keris memadukan kinerja wahyu dewa yang ada pada diri seseorang dengan wahyu gaib keris buatannya, suatu tindakan spiritual yang sangat tinggi yang tidak dapat dicapai kebanyakan manusia jaman sekarang yang hanya sampai pada tahapan kebatinan atau ilmu gaib / khodam saja, yang mampu membuat jimat beserta kegaibannya, tetapi tidak mengetahui ada / tidaknya suatu wahyu pada diri seseorang, apalagi memadukannya.

Itulah sebabnya dalam membuat keris para empu melakukan berbagai proses ritual gaib, yang menurut pandangan awam jaman sekarang dianggap tidak perlu lagi dan para empu keris jaman sekarang pun sudah tidak lagi melakukan yang sedemikian itu. Berbagai proses ritual itu memang suatu keharusan supaya keris yang dihasilkan oleh si empu benar-benar sempurna sebagai pendamping manusia pemiliknya. Berbagai proses ritual tersebut justru dilakukan oleh para empu karena mereka benar-benar menguasai bidangnya dan tercapainya tujuan seperti tertulis di atas, hanya mereka yang menguasai spiritual tingkat tinggi saja yang mampu melakukannya. Jelas sekali bahwa seorang empu keris lebih daripada sekedar seorang pengrajin keris atau seorang pandai besi atau seorang dukun / paranormal jaman sekarang.

2.  Seorang empu keris adalah seorang yang secara spiritual keagamaan mendarma-baktikan hidupnya kepada  “Tuhan” – nya melalui jalur perkerisan. Jalur perkerisan itu adalah jalan yang ditempuhnya, sama dengan jalan agama, sebagai darma-bakti-nya kepada Tuhan. Dalam perjalanan menjadi seorang empu keris, seseorang harus menguasai pengetahuan agama (agama pada waktu itu) dan ritual keagamaan, kebatinan dan spiritual, yang kemudian dituangkan dalam bentuk keris.

Derajat seorang empu keris dalam dunia keagamaan sangat dihormati setingkat dengan seorang pemuka agama, seorang brahmana atau seorang panembahan. Seorang empu keris juga kerap diminta untuk memimpin ritual yang mirip dengan ritual keagamaan, misalnya ritual bersih desa, selametan, syukuran, ruwatan sengkolo, pembersihan dan pemberkatan pembukaan lahan baru, pengangkatan pejabat / pembesar kerajaan / kadipaten / kabupaten, dsb.  Seringkali seorang empu keris juga menjadi tempat bertanya bagi rakyat bahkan raja mengenai permasalahan kehidupan, kearifan keagamaan, bahkan mengenai aspek kenegaraan dan suksesi pemerintahan.

Sesuai kepercayaan keagamaan pada masa itu sebuah keris yang diterima langsung dari seorang empu keris juga dianggap sebagai 'berkah' dan perkenan Dewa bagi si penerima keris. Itulah sebabnya keris-keris yang diterima langsung dari seorang empu keris akan menjadi pusaka bagi si penerima keris dan akan sangat dipelihara dan dijaga olehnya, bahkan akan 'dikeramatkan', lebih daripada sekedar jimat dan senjata, karena sebuah keris adalah bentuk "restu Tuhan" dan berisi doa-doa keselamatan dan kesejahteran dari seorang spiritualis dan pemuka agama untuk si pemilik keris, selain karena keris itu juga melambangkan kehormatan pemiliknya.

3.   Seorang empu keris adalah seorang yang sudah mandito, sama dengan seorang brahmana atau panembahan (walaupun mungkin umurnya masih muda). Dia tetap membutuhkan materi duniawi, terutama untuk istri dan anak-anaknya, tetapi secara pribadi tidak memiliki pamrih atas kekayaan. Justru pamrih atas kekayaan itu akan menjadi penghambat pekerjaannya, karena dia harus selalu menekuni berbagai laku prihatin dan tirakat untuk dapat terus berkarya. Bahkan mungkin seumur hidupnya sebagai seorang empu keris, dia sama sekali tidak pernah menikmati kekayaannya, karena harus selalu menjalani laku prihatin dan tirakat untuk menjaga spiritualitasnya. Mungkin satu-satunya yang dia nikmati adalah rasa bangga, bahagia, rasa terima kasih, penghormatan dan penghargaan dari seseorang yang keris pesanannya telah selesai dibuat dan telah diserahkan kepadanya.

Seorang empu keris tetap membutuhkan materi duniawi, terutama untuk istri dan anak-anaknya, tetapi secara pribadi tidak memiliki pamrih atas kekayaan. Empu-empu keris ternama, yang pesanan kerisnya banyak berasal dari seorang raja, pembesar kerajaan dan para bangsawan, dan orang-orang kaya, mereka tidak memasang tarif atau harga, tetapi setelah keris pesanannya selesai dibuat dan diserahkan kepada pemesannya, biasanya sang empu mendapatkan penghargaan berupa materi yang banyak, bahkan juga dianugerahi gelar kebangsawanan dan jabatan kepala daerah atau kekuasaan atas tanah dan wilayah yang luas yang diberikan kepadanya. Walaupun mendapatkan imbalan berlimpah, sang empu keris dan keluarganya juga tidak hidup bermewah-mewah. Biasanya anak-anaknya pun akan meneladani kehidupan ayahnya, bersama cantrik-cantrik yang lain membantu dan mendampingi sang empu dalam pembuatan keris berikut laku prihatin dan tirakatnya. Biasanya mereka menjadi keluarga yang sangat religius dan menjadi panutan banyak orang.

4.  Tidak seperti orang jaman sekarang dalam membuat sebuah jimat, yang seringkali hanya dibutuhkan bacaan amalan / mantra saja dan sesaji kembang atau minyak, pembuatan keris lebih daripada itu. Dan walaupun ada juga keris-keris yang dibuat secara masal, terutama pesanan dari kerajaan, kadipaten dan kabupaten untuk keseragaman senjata tingkatan prajurit (biasanya jenis tombak) dan keris-keris yang untuk rakyat umum, tetap saja laku ritualnya dilakukan secara khusus, apalagi untuk membuat keris yang bersifat pesanan individu. Itu adalah bentuk tanggung jawab moral sang empu supaya keris-keris buatannya memiliki tuah yang baik bagi pemiliknya.

Tidak ada kata pasrah kepada Tuhan dalam proses pembuatan keris dan dalam mendatangkan gaib keris, karena  harus sesuai dengan orang yang akan menjadi pemiliknya. Semua persyaratan dan daya upaya dilakukan supaya hasilnya sesuai dengan tujuannya. Itulah yang disebut laku.  Itu adalah wujud tanggung jawab moral dari sang empu. Karena itu dalam satu pesanan keris yang bersifat khusus biasanya oleh sang empu tidak hanya dibuat satu keris, minimal dibuat dua. Dari kedua keris itu akan dipilih salah satu yang paling cocok dengan karakter si pemesan. Sedangkan yang satunya lagi akan diberikannya kepada orang lain yang dianggapnya sesuai dengan karakter keris tersebut, setelah dilakukan pembedaan pada kerisnya, tentunya.

5.  Bentuk keris, karakter gaib keris dan tingkat kesaktiannya selalu disesuaikan dengan status, karakter dan kehidupan pemiliknya. Mengenai kelengkapan dan kemewahan keris adalah tergantung akan diberikan kepada siapa keris itu nantinya. Selain kesanggupan untuk membayar biaya pembuatan keris, status pribadi si pemilik keris di masyarakat itulah yang menentukan kepantasan keris yang akan dia kenakan. Semakin tinggi status duniawi sang pemilik keris, maka akan semakin lengkap dan mewah hiasan kerisnya.

Contoh :

-  Sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten memiliki hiasan dan kelengkapan aksesoris emas dan intan yang mahal dan mewah, memiliki tingkat kesaktian yang tinggi, dan tuahnya melingkupi area kekuasaan kerajaan, karena sejak awal pembuatannya keris-keris tersebut memang ditujukan bukan hanya akan menjadi sebuah pusaka andalan sebuah kerajaan, tetapi juga akan menjadi lambang kebesaran sebuah keraton, sehingga bukan hanya harus sakti, tetapi juga harus mewah dan berwibawa dan berkuasa di wilayahnya.

Penggunaan bahan meteorit dalam bahan keris biasanya akan menimbulkan gambar / motif pada badan keris yang disebut pamor keris. Tetapi penggunaan bahan meteorit dalam pembuatan keris Nagasasra sama sekali tidak menimbulkan motif pamor. Satu-satunya gambar yang ada pada badan kerisnya adalah gambar naga yang terbuat dari emas. Begitu juga penggunaan bahan meteorit dalam pembuatan keris Sengkelat yang sama sekali tidak menimbulkan motif pamor, karena keris tersebut keleng, hitam gelap tidak berpamor. Ini juga adalah salah satu keistimewaan teknis penempaan logam sang empu pembuat kerisnya.

Sepasang keris Nagasasra - Sabuk Inten dan keris Sengkelat adalah hasil karya yang luar biasa, sebuah maha karya dalam dunia perkerisan. Keris-keris tersebut mendapatkan banyak pujian dan pengakuan dari dunia perkerisan dan banyak orang yang ingin memilikinya, sehingga banyak dibuat tiruannya.

-  Keris Sengkelat, sebuah keris yang sangat indah bentuknya dan sangat tinggi kualitas tempaan logamnya, tetapi sangat sederhana dan sama sekali tidak memiliki aksesoris mewah dan hitam gelap tidak berpamor (keleng), tetapi lebih sakti daripada sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Sesuai karakter kerisnya, keris ini ditujukan untuk seseorang yang berwatak ksatria, aktif membela kebenaran dan menolong orang-orang yang tertindas. Bahkan bila keris-keris lain sudah tidak mampu lagi bertindak, maka keris ini selalu siap sedia kapan saja diperlukan oleh sang ksatria untuk bertindak.

Keris-keris yang ditujukan untuk digunakan oleh seorang ksatria pilihan, biasanya dibuat khusus dari bahan-bahan pilihan dan bentuknya indah sesuai penghormatan sang empu pada watak ksatrianya, tetapi tidak mempunyai hiasan-hiasan mewah pada badan kerisnya maupun sarungnya. Biasanya kesaktian keris tersebut lebih tinggi daripada kesaktian rata-rata keris, berguna untuk mengalahkan kesaktian lawan-lawannya dan untuk menandingi kesaktian pusaka yang disalahgunakan untuk kejahatan dan kezaliman.

Biasanya, seorang empu keris, ketika sedang tidak sibuk mengerjakan pesanan keris, mereka membuat sebuah keris, yang kemudian setelah selesai pembuatannya akan disimpannya sendiri. Ke dalam keris itu dituangkannya isi hatinya, doa-doa keselamatan, kesejahteraan dan perlindungan untuk orang-orang yang lemah dan tertindas. Walaupun sederhana tanpa hiasan mewah, tetapi bentuk kerisnya akan dibuat indah dan berisi kesaktian gaib yang tinggi. Suatu hari ketika telah bertemu dengan seorang ksatria yang dia merasa cocok dan berkenan, maka akan diberikannya keris itu kepadanya. Keris-keris jenis ini biasanya akan aktif berinteraksi dengan kebatinan pemiliknya, walaupun kerisnya sedang tidak dikeluarkan dari sarungnya, karena berisi harapan dan doa sang empu keris, supaya keris itu selalu bermanfaat untuk keselamatan dan kesejahteraan banyak orang.

-  Karena keris Sengkelat terkenal keindahan dan kesaktiannya, mungkin ada seorang bupati / adipati yang juga memesan sebuah keris berdapur sengkelat kepada seorang empu keris. Jika si pemesan itu dalam kesehariannya tidak aktif membela kebenaran, menolong orang yang tertindas, maka sifat orang itu tidak sesuai dengan watak keris sengkelat. Sang empu yang mengetahui karakter si pemesan tersebut tidak akan mendatangkan gaib keris yang berkarakter sama dengan gaib keris sengkelat.

Supaya sesuai dengan karakter pemiliknya, maka mungkin yang kemudian didatangkannya adalah gaib keris yang berkarakter sama dengan keris pulanggeni atau singa barong, untuk kebangsawanan. Dengan demikian walaupun kerisnya sakti dan berdapur sengkelat, tetapi watak kerisnya tidak sejalan dengan watak keris sengkelat. Lagipula, mungkin kemudian keris berdapur sengkelat tersebut akan diberi banyak hiasan mewah sesuai status si pemesan, yang jelas akan tidak sejalan dengan kesederhanaan watak keris sengkelat.

- Keris-keris yang khusus dibuat untuk seorang raja, adipati atau bupati, pasti mewah dan sakti dan tuahnya selalu terkait dengan wibawa kekuasaan, karena seorang kepala pemerintahan harus berwibawa dan harus senantiasa mengayomi dan melindungi orang-orang di wilayah kekuasaannya.

-  Seorang senopati atau panglima perang, walaupun memiliki banyak kekayaan sesuai status dan jabatannya, tetapi tidak selalu hidup mewah. Hidup mereka keras dan disiplin, penuh tanggung jawab. Mungkin hidup mereka penuh dengan peperangan dan pertarungan. Sesuai karakter dan kehidupan mereka, maka keris-keris yang diperuntukkan bagi mereka biasanya adalah keris-keris sakti, berbiaya tinggi karena dibuat dari bahan-bahan yang baik untuk keris tarung, dan memiliki simbol-simbol sebagai tanda status mereka di kerajaan, tetapi bentuknya sederhana, dan sekalipun juga memiliki kelengkapan mewah pada kerisnya, tetapi tidak semewah keris-keris untuk pembesar lain.

- Berbeda dengan keris-keris untuk para saudagar / orang-orang kaya dan pejabat / pembesar yang sering menjadi “tikus kantor” dan menggerogoti wibawa dan harta kerajaan. Sesuai pesanan mereka, keris-keris untuk mereka biasanya penuh dengan hiasan mewah, karena disesuaikan dengan pemakainya yang biasanya mengagungkan statusnya di masyarakat dan menonjolkan kekayaan dan kemewahan. Keris-keris untuk mereka biasanya dibuat dari bahan yang bagus dan dibuat mewah, meliputi badan keris yang berkinatah emas, sarung keris dari jenis kayu yang mahal dan diselimuti pendok emas, gagang keris dengan mendak dan salut berbalut emas dan intan dan ganja keris berkinatah emas, sehingga walaupun tidak dikeluarkan dari sarungnya, kemewahan kerisnya tampak jelas terlihat dari luar.

Keris-keris untuk mereka tingkat kesaktiannya relatif lebih rendah daripada keris yang diperuntukkan untuk seorang ksatria atau senopati / panglima perang, tetapi cukup sakti karena disesuaikan juga dengan tingkat kesaktian yang diperlukan untuk menjaga kewibawaan mereka dan untuk melindungi mereka dari serangan gaib yang mungkin ditujukan kepada mereka, dan tetap lebih sakti daripada keris-keris yang diperuntukkan untuk prajurit dan rakyat kebanyakan.

-  Keris untuk rakyat biasa. Biasanya bentuknya sederhana dan tidak memiliki hiasan-hiasan yang mewah, sesuai budaya dan kebiasaan mereka untuk merendahkan hati. Biasanya keris-keris untuk mereka dibuat masal, sehingga biaya pembuatannya menjadi rendah dan harganya terjangkau untuk rakyat umum. Sesuai pemiliknya, biasanya tuah utama keris-keris tersebut bukan untuk kesaktian, tetapi untuk kerejekian, kesuburan dan ketentraman keluarga.

-  Keris-keris pribadi sang empu keris, keris untuk seorang panembahan dan keris untuk raja atau keluarga raja yang sudah mandito. Biasanya bentuknya sederhana dan tidak memiliki hiasan-hiasan yang mewah, tetapi sakti. Sesuai kondisi kebatinan pemiliknya, biasanya tuah utama keris-keris tersebut bukan untuk kesaktian, tetapi untuk kharisma pengayoman dan kesepuhan, auranya teduh dan tidak angker, tetapi pasti sakti karena berguna untuk melindungi rakyat dan orang-orang yang berlindung kepada mereka (juga supaya sebanding dengan panembahan itu sendiri yang biasanya juga sakti).

- Keris-keris tua berdapur Banyak Angrem.

Keris-keris tua berdapur Banyak Angrem adalah jenis-jenis pusaka yang sangat sederhana bentuk dan modelnya dan sejak dulu sampai sekarang tidak banyak mendapatkan sentuhan variasi di dalam pembuatannya. Karena kesederhanaannya itu tidak banyak orang yang memberikan perhatian atau keinginan untuk memilikinya.

Tetapi satu hal yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah bahwa keris-keris tua berdapur banyak angrem ternyata memiliki keistimewaan dan kekuatan kegaiban yang jauh lebih baik daripada keris-keris atau pun pusaka-pusaka jenis lain yang umum.

Pada awal pembuatannya, keris-keris banyak angrem biasanya menjadi pusaka pribadi seorang empu keris / panembahan / pemuka kerohanian, tetapi banyak juga yang kemudian diberikan kepada raja-raja dan orang-orang yang sedang berkuasa untuk keteduhan dan pengayoman moral. Tetapi karena bentuknya yang sederhana dan ketidaktahuan manusia akan manfaatnya, banyak jenis keris itu yang diterlantarkan, tidak diinginkan dan / atau diberikan kepada orang lain, sehingga hilang dari daftar perbendaharaan pusaka.

Gaib dari keris-keris banyak angrem memiliki sifat karakter yang mirip dengan sifat karakter gaib mustika keong buntet dan kegaiban di dalam perkutut majapahit. Keris-keris banyak angrem bisa memberikan tuah apa saja yang bisa diberikan oleh keris-keris dan pusaka lain, tuah-tuah untuk kesaktian, keselamatan, wibawa kekuasaan, kerejekian, pengasihan, pengobatan gaib, keilmuan, kesepuhan, pengayoman dan banyak macam kegaiban lain sesuai yang diinginkan oleh pemiliknya (banyak fungsinya).

Gaib di dalam keris-keris banyak angrem bila sudah cocok dengan manusia pemiliknya atau pembawanya, akan menyelaraskan dirinya dan membantu setiap usaha / aktivitas yang dilakukan oleh orang tersebut, apalagi bila orang tersebut menunjukkan rasa sayang dan merawatnya dan dapat mengsugesti sang gaib keris untuk membantunya.

Gaib di dalam keris-keris banyak angrem berkarakter seperti Dewa Semar, yaitu berwatak keras dan berwibawa, tetapi bersifat mengayomi seperti orang tua, sehingga sifat wataknya serupa dengan keris tindih, dan mampu meredam gangguan / keanehan gaib dari jimat, pusaka atau gaib-gaib lain di sekitarnya. Tuah dari keris-keris ini juga melunturkan (meredam) ilmu kesaktian dan jimat / pusaka yang bersifat agresif dan menonjolkan kegagahan.