Hikayat Keris

1. Keris Empu Gandring

Keris ini tak jelas lurus atau berluk, karya Empu Gandring (13M). Empu Gandring dibunuh oleh Ken Arok, dikarenakan keris pesanannya belum jadi. Menjelang ajal, sang Empu mengutuk jika kelak keris buatannya tersebut akan membunuh sampai 7 turunan, mereka ialah: Empu Gandring, Akuwu Tunggul Ametung (suami Ken Dedes), Ken Arok, Pesuruh Anusapati (anak tiri Ken Arok), Anusapati, dan yang terakhir terbunuh adalah Tohjaya tahun 1428, terluka disaat ada pemberontakan di Istana. Dan keris karya Empu Gandring pada abad 13 itu, sekarang ditanam didalam candi Anusapati alias candi jago, di Tumpang kabupaten Malang - Jawa Timur.

2. Keris Jalak Sumelang Gandring

Prabu Brawijaya II mengutus Empu Supa Mandrangi untuk mencari keris Jalak Sumelang Gandring miliknya yang hilang. Empu Supa Mandrangi menyanggupinya, lalu pergi ke Blambangan dengan berganti nama Empu Pitrang. Karena kepandaiannya sebagai Empu pembuat keris, Sang Adipati Blambangan memesan keris kepada Empu Pitrang sambil membawa contohnya. Ternyata, keris tersebut adalah Jalak Sumelang Gandring milik sang Prabu Brawijaya. Maka Empu Pitrang membuat 2 bilah keris duplikatnya. Setelah selesai, keris pesanan Adipati Ciung Lautan diserahkannya, sedangkan aslinya disembunyikannya. Senang, hati sang Adipati menerima hasil karya Empu Pitrang, sebagai hadiahnya, Adipati Blambangan tersebut menikahkan putrinya dengan Empu Pitrang. Sebenarnya sudah seringkali sang putri Adipati dinikahkan, namun, kesemua suaminya mati secara misterius. Mengetahui adanya peristiwa aneh tersebut, maka dengan segala kesaktiannya Empu Pitrang menyelidiki penyebabnya, akhirnya Empu Pitrang tahu jika dikemaluan sang putri bersembunyi ular "welang". Maka tidak heran jika setiap menyenggamainya selalu mati digigit ular welang. Kemudian Empu Pitrang mengeluarkan ular welang tersebut dan menanamnya dibawah pohon "kara", sebangsa sayuran buncis. Akan tetapi malam harinya ular tersebut sudah tidak ada dan berubah menjadi sebilah keris pusaka berluk 3, yang oleh Empu Pitrang diberi nama keris "karawelang". Sewaktu sang putri hamil, Empu Pitrang pamit pergi ke Kerajaan Majapahit sambil menitipkan pesan, jika kelak anaknya lahir agar diberi nama Jaka Sura. Sesampainya Di Kerajaan Majapahit, Empu Pitrang alias Empu Mandrangi menyerahkan keris pusaka jalak sumelang gandring kepada Prabu Brawijaya, yang telah ditemukannya kembali. Sangat gembira hati Sang Prabu, yang kemudian menganugerahi gelar " Pangeran Sedayu". Ditempat yang lain setelah selang beberapa waktu lamanya, Jaka Sura lahir. Dan diketika beranjak dewasa, Jaka Sura pergi mencari ayahnya Empu Pitrang ke Majapahit. Disepanjang perjalanannya, Jaka Sura membuat keris-keris yang aneh, hanya dipijit-pijit dengan tangan tanpa ditempa, serta ujungnya dilubangi untuk mengkaitkannya dengan tali. Kemudian setiap berjumpa dengan seseorang keris tersebut diberikannya. Akhirnya Jaka Sura berhasil bertemu dengan ayahnya Pangeran Sedayu alias Empu Supa Mandrangi alias Empu Pitrang. Lalu keduanya sama-sama mengabdi di Keraton Majapahit. Berikut ciri khas pusaka buatan Jaka Sura: 1. keris-keris pijitan dan pesinya berlubang. 2. Pedang ampuh, mampu mematahkan pintu. Oleh Prabu Brawijaya diberi nama " Pedang Sang Lawang ".

3. Keris Condong Campur VS Keris Sengkelat

Suatu ketika kerajaan Majapahit tertimpa pageblug dan Empu Supa Mandrangi mendapat perintah Prabu Brawijaya untuk mengatasinya. Dari hasil bersemedi, Empu Supa mengetahui jika pusaka keraton Majapahit yang bernama Condong Campur selalu menganga menginginkan darah manusia. Lalu dengan bahan besi pilihan Empu Supa membuat keris berluk 11 Naga Sasra Sabuk Inten dan keris berluk 13 Sengkelat. Setelah jadi, keduanya ditempatkan satu peti dengan Condong Campur, disitulah Sengkelat berkelahi melawan Condong Campur. Ujung keris condong campur patah, musnah keangkasa raya, sambil mengancam rakyat akan balas dendam jika terlihat Bintang Kemukus disebelah barat. Itulah sebabnya orang Jawa percaya jika ada bintang kemukus dilangit pada malam hari merupakan pertanda adanya wabah penyakit yang menjangkiti rakyat, oleh karenanya untuk menolaknya orangpun membuat sesaji.

4. Tombak Baru Klinthing

Pada masa Kerajaan Pajang, bertapalah seekor ular Naga melingkari puncak gunung merapi. Ki Ageng Pemanahan menerima bisikan ghaib bahwa, bila ular naga itu berhasil melingkarkan dirinya dipuncak merapi, jayalah Kerajaan Pajang dan Suta Wijaya anak Ki Ageng Pemanahan tak bisa menjadi Raja. Ular naga tadi nyaris sampai melingkarkan kepala dan ekornya dan Ki Ageng Pemanahan minta bantuan kepada Ki Ageng Wanabaya di Mangir yang terkenal sakti. Jika berhasil, Ki Ageng Mangir akan diberi separo negeri Pajang. Akhirnya Ki Ageng Mangir mampu mencegah usaha ular naga dengan memotong lidahnya disaat ular naga menjulurkan kepala dengan lidahnya. Lidah Naga tersebut menghilang dan berubah wujud menjadi pusaka sebilah tombak. Ki Ageng Wanabaya Mangir mengambilnya dan diberi nama Tombak Baru Klinthing. Pada gilirannya, Ki Ageng Pemanahan berhasil merebut Pajang dan Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram bergelar "Panembahan Senapati. Tapi, janjinya diingkari, lalu Ki Ageng Wanabaya menjadi pembangkang. Pihak Mataram berupaya menaklukkan Ki Ageng Wanabaya. Dikorbankanlah Sang Putri mahkota Pembayun. Dia dan abdinya menyamar sebagai ledek disekitar daerah Mangir. Terpesonalah Ki Ageng Mangir dengan rombongan kecil ledek pembayun, yang akhirnya diangkat menjadi istri. Pada suatu kesempatan pembayun melaksanakan tugasnya, mengusap tombak pusaka sakti baru klinthing dengan sampur sonder ikat pinggang ledek. Disaat tombak pusaka sudah berkurang kesaktiannya, yang bertepatan pula dengan kehamilan sang putri Pembayun, maka mengakulah bahwa sebenarnya Pembayun adalah putri mahkota anak panembahan senopati. Walaupun dengan berat hati, Ki Ageng Wanabaya melaksanakan permintaan agar sungkem ke mertuanya. Disaat sungkem, Kepalanya ditatapkan kebatu gilang oleh Panembahan Senapati. Seketika itu pula Ki Ageng Wanabaya menemui ajalnya. Jenazahnya yang separo dikebumikan dipemakaman keluarga Raja-raja Mataram, separohnya lagi diluar batas makam kerajaan, suatu simbol separuh musuh separuh anak menantu. Kini pusaka tombak baru klinthing tersimpan di Keraton Mataram Yogyakarta.

Misteri Keris Mpu Gandring

Mpu Gandring sang pembuat keris yang terkenal itu, berasal dari desa Lulumbang. Ia merupakan sahabat dari Bango Samparan ,ayah angkat Ken Arok. Dikisahkan dalam Pararaton bahwa Ken Arok berniat mencari senjata ampuh untuk membunuh majikannya, yaitu Tunggul Ametung akuwu Tumapel. Ia ingin memiliki sebilah keris yang dapat membunuh hanya sekali tusuk. Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada Mpu Gandring. Untuk mewujudkan pesanan Ken Arok, Mpu Gandring meminta waktu setahun. Ken Arok tidak sabar. Ia berjanji akan datang lagi setelah lima bulan.

Lima bulan kemudian, Ken Arok benar-benar datang menemui Mpu Gandring. Ia marah melihat keris pesanannya baru setengah jadi. Karena marah, keris itu direbut dan digunakan untuk menikam dada Mpu Gandring. Meskipun belum sempurna, namun keris itu mampu membelah lumpang batu milik Mpu Gandring. Mpu Gandring pun tewas terkena keris buatannya sendiri. Namun ia sempat mengutuk kelak keris tersebut akan merenggut nyawa tujuh keturunan Ken Arok, termasuk Ken Arok sendiri. Ken Arok kembali ke Tumapel untuk membunuh dan merebut kedudukan Tunggul Ametung

mpu gandringKeris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok. Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmanabernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para “mpu” (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi “ditransfer” kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.

Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni :

Terbunuhnya Tunggul Ametung

Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar “Dandang Gendis” (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa “barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia”.

Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.

Terbunuhnya Ken Arok
ken_arok

Illustrasi Ken Arok

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari. Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.

Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai “eksekutor” terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Terbunuhnya Anusapati

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas. Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.

Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya. Keris Mpu Gandring ini menurut beberapa sumber spritual sebenarnya tidak hilang. Dalam arti hilang musnah dan benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. Pada bagian ini tak hendak membahas masalah itu. Pada bagian ini hendak mengajak para pembaca untuk sejenak menganalisa “keampuahan” atau “tuah” dari keris itu maupun pembuatnya (Mpu Gandring).

Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata hanya ada 7 (tujuh) orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring, dimana keturunan Ken Arok yang terbunuh hanyalah Tohjaya
1. Mpu Gandring, Sang Pembuat Keris.
2. Kebo Ijo, rekan Ken Arok.
3. Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel pada saat itu.
4. Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari.
5. Ki Pengalasan, pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok
6. Anusapati, Anak Ken Dedes yang memerintah Ki Pengalasan membunuh Ken Arok.
7. Tohjaya, Anak Ken Arok dengan Ken Umang.